Pastikan situs kami semakin bermanfaat setiap kali Anda datang berkunjung dengan mengaktifkan cookie sehingga kami bisa mengingat perincian seperti bahasa pilihan Anda, demi meningkatkan pengalaman jelajah Anda. Oke

Sebuah bakery tradisional dan toko lomo menunjukkan pengalaman tradisional yang dilestarikan di sana.

Mulai bakery tradisional hingga toko yang mengangkat fotografi gaya lama yang sulit diprediksi, dua bisnis ini membagikan sudut pandangnya seputar cara melestarikan pengalaman tradisional.

Era digital berpadu dengan ruang tradisional

Selama beberapa waktu, kelompok seni dan butik kecil yang unik telah membuka toko di rumah-rumah toko tradisional di sepanjang balai pengobatan Tiongkok dan bahkan pegadaian. Mungkin saja ruang-ruang tradisional ini memberi suasana masa lalu yang menginspirasi untuk jenis perdagangan dan kegiatan ini. Kunjungilah distrik bersejarah di Singapura karena Anda mungkin berkesempatan menemukan toko-toko eklektik yang berjajar di sepanjang jalan.

Lomografi - seni memotret yang dicirikan dengan warna-warna cerah dan sketsa bergerak — adalah hobi yang sedang populer yang membuat fotografi analog kembali menjadi tren. Menambah sentuhan edgy dari fotografi yang bergaya unik, butik Lomografi baru yang juga merupakan galeri ini menyelip di rumah toko yang nyaman, menyambut Anda di dunia penuh warna dan pesona sejarah. Berlokasi di 295 South Bridge Road seberang Kuil dan Museum Buddha Tooth Relic, toko ini berada di distrik multikultural Chinatown.

Ruko istimewa ini, selama beberapa dekade, ditempati oleh apotek, kemudian, oleh sebuah perusahaan yang bergerak dalam mesin untuk industri perhiasan. Selain bisnis ritel tersebut, banyak ruang di sepanjang South Bridge Road juga digunakan sebagai gudang dan pemukiman kuli dari akhir tahun 1800-an. 

Sesuai dengan semangat konservasi, Meerly Wang, 30 tahun, manajer umum toko, mempertahankan sebagian besar struktur unit lantai dasar seluas 1.500 meter persegi. Dia telah memberikan sentuhan yang menyenangkan dengan mengundang seniman lokal untuk mengekspresikan pandangan mereka tentang Lomografi pada pilar yang membingkai bagian depan toko. 'Pada masa lalu, pemilik toko memasang nama toko mereka di pilar-pilar. Pada saat ini, kami mengekspresikan identitas kami melalui dua lukisan dinding yang kreatif. Hal ini merupakan cara penyampaian yang instan di antara pengunjung atau orang-orang yang melintas,' ungkapnya.

'Saat mereka berkunjung untuk pertama kalinya, pelanggan dan para pecinta Lomografi terkejut menemukan kami di rumah toko yang dilestarikan dengan baik,' ujar Nona Wang. Di dalam, toko berpendingin seluas 100 meter persegi telah berubah wujud menjadi sebuah kantor. Cahaya alami masuk untuk menjaga semangat desain tradisional. Untuk menampilkan gaya lomografi yang seru dan penuh warna, toko ini menawarkan LomoWall yang khas. Dari blok HDB, ke Singapore Flyer dan pantai-pantai Sentosa, ribuan foto di dinding berfungsi sebagai dokumentasi Singapura di masa lalu dan masa kini . 

Toko roti zaman dahulu

test2

Konservasi bukan hanya sekadar menjaga ruang dan fisik bangunan tetapi juga memelihara dan menghargai kenangan sosial dari tempat tersebut. Banyak toko yang tidak bertahan lama, toko yang satu ini memang mantap dan tidak lekang dimakan waktu dan pada kenyataannya, sama populernya di generasi yang lebih muda maupun generasi tua.

Tan Hock Seng (陳褔成) yang berlokasi di 86 Telok Ayer Street terkenal dengan pastry Hokkiennya yang baru dipanggang seperti beh teh saw (biskuit bulat, rapuh dan harum dengan isian wijen, malt dan gula) dan pong piah (versi beh teh saw yang lebih gepeng dan tidak terlalu rapuh). Didirikan 70 tahun yang lalu, Tan Boon Chai, 67 tahun, generasi ketiga pemilik toko ini merasa bahwa toko rotinya merupakan cara melestarikan budaya dan tradisi untuk generasi yang lebih muda.

Perdagangan tradisional cepat menghilang dari lanskap Singapura tetapi kami terhibur menemukan fakta bahwa kami masih bisa membeli pastry Hokkien yang baru dipanggang dari Tan Hock Seng. Benar sekali, biskuit Tan Hock Seng ini telah mendapatkan penggemar baru di kalangan muda, dengan pembelian sebagai oleh-oleh untuk teman-teman dan kerabat yang tinggal di Eropa, Australia dan di tempat lainnya. Para pekerja kantoran dan pelanggan tetap di seluruh pulau berkerumun di sana untuk memuaskan selera.

Meskipun ia telah menerima saran untuk 'memodernisasi' tokonya saat ini dengan pajangan baru yang lebih gemerlap dan rak logam yang trendi, Boon Chai memilih untuk mempertahankan tokonya agar tetap sederhana, dan sebagian orang mengatakan justru dekorasi vintage inilah yang menjaga kelangsungan bisnis dengan baik selama ini. Jadi, pengunjung dapat menemukan penanda kertas buatan para pelopor yang telah lapuk dengan nama dan harga yang ditulis dengan tulisan tangan, bukannya tanda yang dicetak secara digital yang diselipkan di tempat plastik.

Di konter kayu dengan bagian atas yang terbuat dari formika, dipenuhi beh teh saw khas toko ini, dikemas ganda dalam paket yang berisi 10 buah dalam kantong plastik transparan, ia menjelaskan, 'Ini adalah bagian dari identitas kami dan sebaiknya kami tidak mengubahnya. Selain itu, kebanyakan pelanggan saya ingin bisnis kami tetap mempertahankan kesan nostalgia...Banyak pelanggan setia kami memiliki kenangan baik di sini.'

Kenangan memang seharusnya disimpan dan dipertahankan. Para penjaga seperti Boon Chai dan penganannya melakukan itu. Bersiaplah, beh teh saw yang baru dipanggang terjual cepat, pada sore hari.